Pembibitan Tanaman Hias Hutan Sebagai Solusi Maraknya Perburuan Ilegal

Dusun Palasari adalah rumah dari Ecovillage Anadopah, sebuah komunitas masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis. Berawal dari terdapatnya kebun warga di Palasari yang lahannya belum teroptimalkan, maka diinisiasilah pembudidayaan tanaman hias karena prospek ke depannya dapat menambah keanekaragaman vegetasi tumbuhan. Prospek tersebut dapat juga menjadi penguat karakter dari Ecovillage sendiri karena dapat menjadi daerah penguat eksitu Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Pembuatan lahan budidaya tanaman hias yang menjadi area khusus percontohan ini dimulai pada bulan Juli hingga Agustus 2020 dengan ditanami tumbuhan yang terkenal akan sebutan “Sri Rezeki” atau Chinese Evergreen. Tanaman Aglaonema (Araceae) yang memiliki sekitar 30 spesies ini menjadi terkenal terlebih karena seorang ahli botani yang dikenal bernama Greg Hambali menyilangkan spesies Aglaonema Rotundum yang merupakan spesies asli Sumatera dengan Aglaonema Commutatum yang asalnya dari Filipina. Daya tarik tersebut menjadi penggerak bagi kami bersama masyarakat dalam membuat budidaya tanaman hias sebagai mesin penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Kegiatan KKN ini dalam mengumpulkan benih atau bibit tanaman hias kami lakukan dengan pencarian di sekitar daerah Kabupaten Ciamis beserta daerah sekitarnya yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, terutama ketika pulang pergi ke tempat posko KKN kami. Bukan hanya pencarian di daerah perkotaan saja, pencarian tanaman hias juga kami lakukan dari hutan Gunung Sawal dari mulai lahan Perhutani hingga area Konservasi namun tentunya atas izin BKSDA dengan tujuan penelitian dan perbanyakan tanaman (budidaya). Seiring berjalannya waktu kita sering berinteraksi dengan hutan kawasan konservasi ini, sering terjadi transaksi jual beli plasma nutfah ilegal seperti Kantong Semar. Kegiatan ilegal tersebut dikarenakan tidak paham akan plasma nutfah yang dilindungi terlebih karena pengambilannya dari area konservasi hutan Gunung Sawal.
Kegiatan budidaya tanaman hias ini juga semakin berkembang dari mulai jenis tumbuhan hingga perluasan lahan juga kami optimalkan salah satunya dengan mengajak pihak luar untuk dapat bekerja sama dalam mengembangkan budidaya ini. Beberapa pihak yang telah meninjau dan memberikan saran terutama dari ranah ilmu pengetahuan seperti Balai Penyuluh Pertanian,
Balai Litbang Teknologi Agroforestry (BPPTA), BKSDA, Universitas Siliwangi, hingga masyarakat di luar Dusun Palasari.
Setelah kegiatan KKN selesai, keberlanjutan kegiatan ini diteruskan oleh Yayasan Bumi Air Anadopah (YBAA) melalui program Bumi Lestari dengan membentuk unit usaha masyarakat yaitu Kiara Jingkrang sebagai solusi pengalihan pemburuan tanaman hias yang sebelumnya dijual secara langsung dialihkan untuk diperbanyak terlebih dahulu di luar konservasi sehingga ketika ada yang ingin membeli tanaman hias tidak langsung mengambil ke hutan, tetapi menjual tanaman yang sudah dibudidayakan. Saat itu tren tanaman hias belum menghebohkan seperti sekarang, tanaman yang dikumpulkan hanya berdasar pada kesenangan saja, permintaan tanaman hias semakin hari meningkat, produksi tanaman hias pun bertambah jenis tidak hanya Aglaonema saja, namun tanaman hias yang lainnya pun perlahan dikembangkan.
Saat ini di area tersebut ditanami berbagai jenis tanaman hias baik dari hutan maupun dari luar hutan untuk diperbanyak, perkembangan yang cukup signifikan melihat dari jumlah tanaman hias yang sedang dibudidayakan makin banyak dari hari ke hari, saat ini Kiara Jingkrang mempunyai lebih dari 100 tanaman hias dari 20 genus tanaman yang terdiri dari 3 famili yiatu Araceae, Begoniaceae dan Marantaceae. Kegiatan penjualan tanaman hias dimulai pada 27 Oktober 2020 dengan penjualan perdana melalui akun Instagram @kiara_jingkrang yaitu anggrek tanah ‘Cymbidum lancifolium”. Harapan kami dalam pembibitan tanaman hias ini adalah terdapatnya spesies tanaman yang baru yang menjadi daya tarik sekaligus menjadikan aset intelektual negeri ini semakin bertambah terutama untuk estetika lingkungan dan keanekaragaman vegetasi hutan Gunung Sawal.
Dokumentasi Kegiatan:




 

X