Kuliah Perdana UNSIL 2026: Bupati Tasikmalaya Ajak Siliwangi Muda Jadi Agen Perubahan dan Penggerak Pembangunan Daerah

Humas UNSIL — Universitas Siliwangi (UNSIL) mengawali perjalanan akademik mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 melalui Kuliah Perdana bagi Mahasiswa Baru Universitas Siliwangi yang berlangsung pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Mengusung tema “Mahasiswa sebagai Agen Perubahan: Berkarya untuk Daerah, Berdampak bagi Bangsa melalui Inovasi, Kolaborasi, dan Pemberdayaan Potensi Daerah,” kegiatan ini menjadi momentum bagi mahasiswa baru atau Siliwangi Muda untuk memahami peran strategis mahasiswa, tidak hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai bagian penting dari pembangunan daerah dan bangsa.

Kegiatan dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., Rektor Universitas Siliwangi Prof. Dr. Eng. Ir. Aripin, IPU., ASEAN Eng., jajaran pimpinan universitas, para dekan, Direktur Program Pascasarjana, Kepala UPA, serta tamu undangan lainnya.

 

 

Mengawali rangkaian kegiatan, Rektor Universitas Siliwangi Prof. Dr. Eng. Ir. Aripin, IPU., ASEAN Eng. menyampaikan sambutan dengan mengangkat gagasan “Transformasi Perguruan Tinggi di Era Digital: Mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai Fondasi Kampus Berdampak.”

Dalam pemaparannya, Rektor menyoroti pentingnya transformasi perguruan tinggi di tengah perkembangan era digital. Transformasi tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan teknologi, tetapi perlu diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga keberadaan kampus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan gagasan mengenai mahasiswa berdampak. Rektor mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan itu sendiri melalui ilmu, inovasi, dan pelaksanaan Tri Dharma yang memberikan dampak nyata.

Sesi utama Kuliah Perdana menghadirkan Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., sebagai narasumber. Kuliah umum tersebut dipandu oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi, Dr. Diana Hernawati, S.Pd., M.Pd.

Dalam materi yang disampaikan, Bupati Tasikmalaya mengajak mahasiswa melihat pembangunan daerah dari perspektif yang lebih luas. Kabupaten Tasikmalaya memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik dan potensi yang beragam. Kondisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan pembangunan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Bupati memaparkan berbagai tantangan daerah, mulai dari keterbatasan fiskal, ketidakpastian, perlambatan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, ketimpangan infrastruktur, perubahan iklim dan lingkungan, transformasi digital, hingga kemiskinan dan ketimpangan.

Menurut materi yang disampaikan, berbagai tantangan tersebut tidak cukup dihadapi oleh pemerintah secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi, inovasi, digitalisasi, dan pemberdayaan potensi daerah yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media dalam sebuah ekosistem kolaborasi Pentahelix.

Salah satu pesan utama yang disampaikan Bupati adalah pentingnya kehadiran mahasiswa dalam proses pembangunan. Mahasiswa dinilai memiliki kekuatan berupa ide dan kreativitas, ilmu dan pengetahuan, energi dan semangat, kepedulian sosial, serta jaringan dan teknologi.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Mahasiswa didorong menjadi mitra pembangunan, inovator dan problem solver, penggerak pemberdayaan, agen perubahan, serta wirausaha muda yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di daerah.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan tema Kuliah Perdana yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan. Gagasan yang dibangun adalah bahwa ide mahasiswa merupakan percikan perubahan, kolaborasi menjadi bahan bakarnya, dan inovasi menjadi jalan menuju masa depan daerah yang lebih baik.

Kuliah umum juga memperkenalkan berbagai peluang kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Salah satunya melalui program kolaborasi pendidikan yang mencakup SADESSA (Satu Desa Satu Sarjana), Desa Naik Kelas, Tasik Hejo, hingga berbagai bentuk kerja sama lainnya seperti riset dan inovasi daerah, magang dan praktik kerja, dosen berkarya di desa, pusat kajian dan kebijakan daerah, seminar dan forum, serta inkubator dan startup desa.

Selain itu, mahasiswa juga dapat berkontribusi melalui KKN Tematik yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan wilayah. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan solusi nyata di bidang pemberdayaan ekonomi desa, digitalisasi desa, pendidikan dan literasi, lingkungan hidup dan kebencanaan, kesehatan dan gizi, hingga sosial, budaya, dan karakter.

Antusiasme Siliwangi Muda semakin terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab bersama Bupati Tasikmalaya. Setelah mendapatkan pemaparan mengenai kondisi, potensi, tantangan, serta arah pembangunan Kabupaten Tasikmalaya, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, gagasan, dan pandangan mereka secara langsung.

Sesi ini berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa. Berbagai pertanyaan yang disampaikan menunjukkan ketertarikan mahasiswa untuk memahami lebih jauh bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa, dapat mengambil peran nyata dalam pembangunan daerah.

Antusiasme tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Kuliah Perdana. Mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi turut terlibat dalam dialog dan membangun perspektif mengenai persoalan serta peluang yang ada di daerah. Diskusi ini sekaligus memperkuat pesan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, gagasan, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.

Melalui interaksi langsung dengan kepala daerah, para Siliwangi Muda mendapatkan gambaran bahwa kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan tidak harus menunggu setelah lulus. Sejak berada di bangku kuliah, mahasiswa telah memiliki ruang untuk berkolaborasi, menghasilkan inovasi, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan daerah.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan inovasi dan solusi bagi masyarakat.

Setelah sesi kuliah umum, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi penggunaan Siliwangi Integrated System yang disampaikan oleh Kepala UPA TIK Universitas Siliwangi, Muhammad Adi Khairul, S.T., M.T. Sosialisasi ini menjadi bagian penting untuk membekali mahasiswa baru agar mampu mengenal, memahami, dan memanfaatkan sistem informasi akademik UNSIL selama menjalani perkuliahan.

Kuliah Perdana UNSIL 2026 pun tidak sekadar menjadi seremoni penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi titik awal untuk membangun pola pikir mahasiswa sebagai generasi yang unggul secara akademik sekaligus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.

Bagi para Siliwangi Muda, perjalanan sebagai mahasiswa kini resmi dimulai. Bukan hanya perjalanan untuk belajar, tetapi juga perjalanan untuk berkarya, berkolaborasi, berinovasi, dan memberikan dampak.

Sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam Kuliah Perdana, UNSIL mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan, tetapi juga berani menciptakan perubahan—dimulai dari lingkungan terdekat, daerah, hingga memberikan kontribusi bagi bangsa.

 

Pewarta: Humas UNSIL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *